Sabtu, 30 November 2013

HADITS




 PENEGAKAN HUKUM TANPA TEBANG PILIH




I.                   PENDAHULUAN
Islam sangat memperhatikan  Keadilan, dan mengajak umat manusia kearah Keadilan. Keadilan merupakan salah satu sifat  Allah S.W.T. Syariat Ilahi yang terkandung dalam al-Quranul karim menggambarkan Keadilan yang sebenarnya.
Perhatikan beberapa firman Allah berkenaan Keadilan. Allah berfirman yang maksudnya:
Keadilan Islam adalah Keadilan yang sebenarnya, tidak kira siapa, meskipun terhadap diri sendiri, ibu bapak, keluarga ,teman rapat ataupun terhadap musuh sekalipun kita dituntut supaya tetap berlaku adil.
Kenyataan kini berbeda, keadilan dalam penegakan hukum tak lagi seperti dahulu. Penegakan hukum semakin ke atas semakin tumpul dan semakin ke bawah semakin runcing. Sungguh ironis keadaan hukum Negara kita, yang seharusnya hukum tu melindungi kini menjadi ancaman besar bagi kalangan bawah dan layaknya barang dangangan yang mudah diperjualbelikan begitu saja.


II.                RUMUSAN MASALAH
A.    Hadits penegakan hukum tanpa tebang pilih
B.      Bentuk Keadilan dalam penegakan hukum islam





III.             PEMBAHASAN
A.    Hadits tentang penegakan hukum tanpa tebang pilih
عن عائشة رضي الله عنها اَنَّ قُرَيْشًا اَهَمَّهُمْ شَٲْنُ الْمَرْٲَةَ الْمَخْزُوْمِيَّةِ الَّتِيْ سَرَقَتْ فَقَالُوْا وَمَنْ يُكَلِّمُ فِيْهَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوْا وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ ٳِلَّا اُسَامَةَ بْنُ زَيْدٍ حِبُّ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ ٲُسَامَةَ فَقَالُوْا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ٲَتَشْفَعُ فِى حَدٍّ مِنْ حُدُوْدِ اللهِ ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ قَالَ ٳِنَّمَا ٲَهْلَكَ الَّذِيْنَ قَبْلَكُمْ ٲَنَّهُمْ كَانُوْا ٳِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيْفُ تَرَكُوْهُ وَٳِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ ٲَقَامُوْا عَلَيْهِ الُحَدَّ وَايْمُ اللهِ لَوْ ٲَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتِ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا ( رواه البخارى )
Dari Aisyah RA. “Sesungguhnya kaum Quraisy bersusah hati lantaran perbuatan seorang perempuan Makhzumiyyah yang melakukan pencurian. Seorang dari mereka berkata: siapakah gerangan yang akan berbicara dengan Rasul SAW tentang hal perempuan ini? Mereka menjawab: tidak ada yang berani berbicara kecuali Usamah Ibn Zaid, yang disayangi Rasulallah SAW. Kemudian Usamah pun berbicara dengan Rasulallah tentang hal itu. Maka Rasulallah berkata: Apakah engkau meminta syafaat mengenai sesuatu hukuman dari hukuman-hukuman Allah? Sesudah itu Nabi berdiri lalu berkhutbah, kemudian bersabda: Bahwasannya Allah telah membinasakan orang-orang yang sebelum kamu karena ketika ada orang-orang yang terpandang mencuri, mereka tidak menjalankan hukuman terhadapnya. Dan apabila kaum lemah (rakyat kecil) mencuri mereka menjatuhkan hukuman atasnya. Demi Allah, sekiranya Fatimah binti Muhammad, mencuri pastilah aku memotong tangannya.” ( HR. Bukhori )
اَهَمَّهُمْ=هم - يهم - اهم
Susah
ٲَتَشْفَعُ= شفع – يشفع
Syafaat, pertolongan
شَٲنُ
Tingkah, perbuatan
حَدٍّ حُدُوْد
Hukum, ketetapan
سَرَقَ
Mencuri
اخْتَطَبَ
Berkhutbah
يُكَلِّمُ= كلم – يكلم
Berbicara
ٲَهْلَكَ
Rusak, binasa
يَجْتَرِئُ
Yang berani
وَايْمُ اللهِ
Demi Allah
اقاموا= قام  -يقوم
Menegakkan



Asbabul wurud hadits diatas adalah dahulu ada seorang perempuan dari golongan Bani Makhzum, yang bernama Fatimah binti Al Aswad, mencuri perhiasan emas. Kasus itu terjadi dalam peperangan penaklukkan Makkah. Orang Quraisy ingin perbuatan perempuan itu dimaafkan (diampuni).
Seorang diantara mereka, yaitu Mas’ud ibn Al Aswad mengemukakan pendapatnya, bahwa tidak ada seorangpun yang berani menemui Rasulallah SAW untuk mengampuni Fatimah itu, selain Usamah Ibn Zaid seorang sahabat yang disayangi Rasul. Mereka tahu, bahwa Rasulallahsangat tegas dan keras dalam melaksanakan hukum Allah SWT. Rasul dengan tegas menolak permohona itu, bahkan Nabi menjadikan Fatimah putrinya sebagai contoh.[1]
Dalam hadits ini diterangkan larangan memberi syafaat atau pertolongan dalam urusan had atau hukum ketetapan Allah SWT. dengan sanagat jelas hadits tersebut tidak membenarkan memeberika syafaat (maaf) kepada seseorang yang melakukan tindak kejahatan, apabila kasusnya telah sampai di tangan hakim. Biarkanlah hakim yang memutuskan.[2]
B.     Bentuk keadilan dalam penegakan hukum islam
Allah Maha Adil kepada seluruh makhluk-Nya, daripada itu telah Allah tetapkan ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi penuh amanah. Melakukan tindakan yang dapat merugikan orang lain seperti mencuri tidak dibenarkan dalam islam dan juga Negara.
Mencuri adalah mengambil harta milik orang lain dengan cara diam-diam atau sembunyi-sembunyi, atau bisa juga dengan cara kekerasan. Sebagai contoh pencurian pada malam hari ketika pemilik sedang tidur dan korupsi termasuk tindak pidana yang sangat merugikan. Terlebih korupsi kini seakan telah menjadi kegiatan yang membudaya.
Apabila tindak pidana pencurian telah dapat dibuktikan maka pencuri dikenai hukuman
1.   Penggantian kerugian (Dhaman), mengembalikan sejumlah nilai yang dicuri.
2.   Hukuman potong tangan yang sesuai dengan firman Allah QS. Al Maidah: 38.
ä-Í$¡¡9$#ur èps%Í$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ÷ƒr& Lä!#ty_ $yJÎ/ $t7|¡x. Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª!$#ur îƒÍtã ÒOŠÅ3ym ÇÌÑÈ
Artinya: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Adapun ketentuan batas hukum potong adalah apabila barang yang dicuri telah mencapai nishab pencurian. Ketentuan ini didasarkan kepada hadits Rasulallah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Muslim, Imam Nasa’I, dan Ibnu Majjah. Bahwa Rasulullah SAW bersabda:
لا تقطع يد السارق الا فى ربع دينار فصاعدا
Tangan pencuri tidak dipotong kecuali dalam pencurian seperempat dinar ke atas.
Hukuman potong tangan dikenakan terhadap pencurian pertama, dengan memotong tangan kanan pencuri dari pergelangan tangannya. Apabila mencuri untuk kedua kalinya, maka ia dikenai hukuman potong kaki kirinya. Apabila mencuri lagi untuk ketiga kalinya, para ulama berbeda pendapat.
Ø  Menurut Imam Abu Hanifah, pencuri tersebut dikenai hukuman ta’zir dan dipenjarakan.
Ø  Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad, pencuri tersebut dikenai hukuman potong tangan kanannya.
Apabila masih mencuri lagi keempat kalinya, maka dikenai hukuman potong kaki kanannya. Dan yang kelima kalinya dikenai hukuman ta’zir dan dipenjarakan seumur hidup (sampai meninggal) atau sampai ia bertaubat.[3]
Alangkah indahnya jika orang-orang mau berfikir dan memahami ketentuan tersebut, niscaya orang-orang akan enggan melakukan perbuatan mencuri dan korupsi yang merugikan orang lain dan diri sendiri. Karena Allah melaknatnya, menjadikan amalnya sia-sia.

C.             KESIMPULAN
Kedudukan individu di mata hukum sama, tidak ada yang membedakan. Penegakkan hukum harus direalisasikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku yakni tanpa tebang pilih.
Allah SAW melaknat orang yang mencuri sehingga memrintahkan untuk memotong tangan pencuri yang telah mencapai nishab. Bukan berarti yang mencuri sedikit tidak dihukum, karena sekecil apapun pencurian yang dilakukan tetap akan mendapat hukuman dari Allah.
Dalam kehidupan berbangsa juga dijelaskan keadilan merupakan pilar kebangsaan yang harus dijunjung dan ditegakkan demi bangsa yang tenteram dan damai. Tindakan yang melanggar hukum harus ditangani dengan baik dan tidak peduli memandang jabatan, harta, harkat seseorang. Jika memang terbukti salah hukum harus ditegakkan dengan adil.
D.             PENUTUP
Demikan makalah ini penulis susun. semoga dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan serta pemahaman lebih bagi penulis dan pembaca tentang hadits. Kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan demi perbaikan makalah.


DAFTAR PUSTAKA

Ash Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbie.  Mutiara Hadits 5.  Semarang: Pustaka Rizki Putra.
Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi. 2011. Koleksi Hadits-Hadits Hukum jilid 4. Semarang: Pustaka Rizki putra
Muslich, Ahmad Wardi .2005.  Hukum Pidana Isla. Jakarta: Sinar Grafika
 




[1] Teungku Muhammad hasbi Ash Shiddieqy, Mutiara Hadits 5, ( Semarang: Pustaka Rizki Putra), 2007, hlm. 436
[2] Prof. DR. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Koleksi Hadits-Hadits Hukum jilid 4, (Semarang: Pustaka Rizki putra, 2011), hlm. 402
[3] Drs. H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005),  hlm. 90-91

Tidak ada komentar:

Posting Komentar